Kamis, 12 Mei 2011

sukses,1 Ha lahan menghasilkan 9,4 ton padi

Metode Pelaksanaan Demo Plot Sistem Tanam SRI
Pengolahan Tanah.

Untuk mendapatkan media tumbuh yang baik, maka lahan diolah seperti tanam padi metode biasa yaitu tanah dibajak sedalam 25 – 30 cm sambil membenamkan sisa tanaman dan rumput kemudian digemburkan dengan garu sampai terbentuk struktur lumpur yang sempurna lalu diratakan sebaik mungkin sehingga saat diberikan air ketinggiannya dipetakan sawah akan merata.
Pemilahan Benih Bernas Dengan Larutan Garam.

Pemilahan benih bernas dilakukan dengan memasukkan air kedalam ember kemudian diberi garam lalu diaduk sampai larut, jumlah garam dianggap cukup bila telur itik telah mengapung. Masukkan benih padi kedalam ember kemudian pisahkan benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Selanjutnya benih yang tenggelam / bermutu dicuci dengan air biasa sampai bersih.


Perendaman dan Penganginan Benih.

Setelah uji benih selesai, proses berikutnya adalah sebagai berikut :
Benih yang bermutu (tenggelam) direndam dalam air bersih selama 24 – 48 jam. Setelah direndam dianginkan atau ditiris selama 24 – 48 jam sampai berkecambah.
Persemaian.
Persemaian dilakukan dengan menggunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari besek. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemindahan, pencabutan dan penanaman. Proses persemaian adalah sebagai berikut :

Benih yang digunakan dalam budidaya SRI tergantung pada kebiasaan/kesukaan petani (bermutu baik / bernas).
Penyiapan tempat persemaian (baki/besek) dilapisi dengan daun pisang yang sudah dilemaskan, kemudian diberi tanah yang subur bercampur kompos dengan perbandingan 1 : 1 . Tinggi tanah pembibitan sekitar 4 cm.
Benih ditaburkan kedalam tempat persemaian kemudian ditutup tanah tipis.
Penanaman.

Pola penanaman bibit metode SRI adalah bujur sangkar 30 x 30 cm pada tanah yang subur. Garis-garis bujur sangkar dibuat dengan caplak. Bibit ditanam pada umur 11 hari (berdaun dua) setelah semai dengan jumlah benih perlubang satu (tanam tunggal) dan dangkal 1 – 1,5 cm serta posisi perakaran seperti huruf “L”.


Pemupukan

Takaran pupuk an organic mengikuti kebiasaan petani setempat dengan waktu pelaksaan :
Pemupukan I pada umur 7-15 HST dengan dosis urea 100 kg/Ha dan Ponska dengan dosis 75 kg/Ha.
Pemupukan II pada umur 25-30 HST dengan dosis urea 100 kg/Ha dan Ponska dengan dosis 75 kg/Ha.
Pemupukan III pada umur 40-45 HST dengan dan Ponska dengan dosis 75 kg/Ha.
Penyiangan

Penyiangan dilakukan sebanyak 3 kali atau lebih sesuai kondisi sawah. Semakin sering dilakukan penyiangan akan dapat meningkatkan produksi.
Pengairan

Cara pengairan berselang adalah :
Sewaktu tanam bibit, lahan dalam kondisi macak-macak.
Secara berangsur-angsur tanaman dialiri setinggi 2-5 cm hingga tanaman berumur 10 HST.
Lahan tidak diairi selama 5-6 hari atau sampai permukaan tanah retak-retak selama 2 hari, kemudian diairi kembali.
Mulai fase keluar bunga sampai 10 hari sebelum panen, lahan digenangi lagi, selanjutnya lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan mempermudah panen.







Pengendalian Hama Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilokasui demplot SRI dikendalikan dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), dengan cara mempergunakan varietas benih yang sehat dan resisten terhadap hama dan penyakit, menanam secara serentak serta mempergunakan pestisida secara selektif.
Hama Belalang, walang sangit, keong dibuatkan alat perangkap.Wereng dikendalikan dengan penaburan abu gosok.
Penggunaan pestisida hanya dilakukan sebagai langkah terakhir, bila serangan hama dan penyakit belum teratasi.
Panen

Panen dilakukan setelah tanaman tua dengan ditandai menguningnya semua bulir secara merata atau masaknya gabah, indikasinya bila digigit tidak berair. Dari pengalaman selama ini panen berlangsung lebih awal dibandingkan dengan sistim biasa/konvensional (dihitung dari mulai persemaian).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar